SEJARAH PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM di INDONESIA pada MASA PRA KOLONIALISME dan MASA KOLONIALISME (BELANDA, JEPANG, SEKUTU)
1. Sejarah Perkembangan Pendidikan Islam pada Masa Pra Kolonialisme
Pendidikan Islam pada masa kerajaan Islam Indonesia bisa dilihat antara lain:
Pertama, kerajaan Islam yang pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudera Pasai di daerah Aceh yang berdiri pada abad ke 10 M, raja pertama Al-Malik Ibrahim Bin Mahdun, yang kedua bernama Al Malik Al Saleh dan yang terakhir bernama Sabar Syah (tahun 1444 M/ abad ke 15 H).
Pengembara dari Maroko Ibnu Batutah tahun 1345 M, singgah di kerajaan Pasai ia mengutarakan bahwa ia sangat mengagumi kerajaan Samudera Pasai dimana rajanya sangat ‘alim dalam ilmu agama dan menganut madzah Syafii, fasih berbahasa Arab dan mempraktikan pola hidup sederhana.
Dari pendapat berikut ditarik sistem pendidikan di kerajaan tersebut:
(1) Materi pendidikan dan pengajaran agama bidang syariat ialah fiqih mazhab Syafii. (2) Sistem pendidikan secara informal berupa majeis ta;lim dan halaqah. (3) Tokoh pemerintah sekaligus pemerintah agama. (4) Biaya pendidikan agama bersumber dari negara.
Kedua, Raden Fatah menjadi raja pertama kerajaan Islam pertama di Jawa yaitu kerajaan Demak. Berdirinya kerajaan Demak menurut ahli sejarah ada 2 pendapat. Pertama, kerajaan Demak berdiri pada tahun 1478 M. Berdasarkan jatuhnya kerajaan Majapahit. Kedua, kerajaan Demak berdiri 1518 M. Tahun berakhirnya masa pemerintahan Prabu Udara Brawijaya VII yang mendapat serbuan dari tentara Raden Fatah Demak.
Sistem pendidikan agama di bawah pimpinan seorang badal untuk menjadi seorang guru yang menjadi pusat pendidikan dan pengajaran serta sumber agama Islam. Wali suatu daerah diberi gelar resmi, yaitu Sunan dengan ditambah nama daerahnya, seperti Sunan Gunung Jati.
Ketiga, kerajaan Islam di Maluku dibawah oleh Muballigh dari Jawa sejak zaman Sunan Giri dari Malak. Raja Maluku pertamayang masuk Islam adalah Sultan Ternate bernama Marhum tahun 1465-1486 M, atas pengaruh Maulana Husein saudagar dari Jawa. Raja Maluku yang terkenal dibidang pendidikan dan dakwah Islam ialah Sultan Zainul Abidin tahun 1486-1500 M.
Dakwah di Maluku mengalami dua tantangan yaitu datang dari orang-orang yang masih animis dan orang Portugis yang mengkristenkan penduduk Maluku. Tokoh misi Khatolik berhasil mengkhatolikan sebagian penduduk Maluku. Ketika bangsa Belanda yang beragama Kristen Protestan datang di Indonesia.
Pemerintah Belanda berhasil memprotestankan rakyat Indonesia secara massal di Batak, Manado, dan Ambon. Sedangkan Khatolik berhasil di daerah Nusa Tenggara Timur yang mendapat pengaruh dari Portugis di Timur-Timur.
Keempat, kerajaan Islam di Kalimantan. Islam mulai masuk di Kalimantan pada abad ke 15 M, dengan cara damai, dibawa oleh mubaligh dari Jawa Sunan Bonang dan Sunan Giri mempunyai santri-santri dari Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Sunan Giri ketika berumur 23 tahun pergi ke Kalimantan bersama saudagar Kamboja bernama Abu Hurairah, mubaligh lain dari Jawa adalah Sayid Ngabdul Rahman alias Khatib Daiyan dari Kediri.
Kelima, kerajaan Islam di Sulawesi. Kerajaan yng mula-mula berdasarkan Islam di Sulawesi adalah kerajaan Kembar Gowa Tallo. Rajanya bernama I. Mallingkang Daeng Manyonari yang kemudian berganti nama dengan Sultan Alaudin.
2. Peran Wali Songo dalam Mengembangkan Pendidikan Islam di Jawa
Dakwah di Jawa makin memperoleh bentuknya yang lebih mantap dengan adanya pimpinan walisongo.
a. Maulana Malik Ibrahim mencetak kader mubaligh selama 30 tahun.
b. Sunan Ampel mewarisi pondok pesantren ayahnya yaitu Malik Ibrahim. Sunan Ampel diambil menantu oleh penguasa Tuban bernama Ario Tejo.
c. Sunan Bonang adalah Putra Sunan Ampel menaruh perhatian yang besar pada bidang kebudayaan dan keadilan.
d. Sunan Derajat adalah adik Sunan Bonang dan menjadi penasehat dan pembantu Raden Fatah dalam pemerintahan.
e. Sunan Giri adalah sepupu sunan Ampel dan diambil menantu oleh Sunan Ampel.
f. Sunan Kudus adalah menjadi hakim tinggi di Demak dan menjadi panglima militer.
g. Sunan Muria adalah orang yang terkenal zuhud dan menjadi guru tasawuf.
h. Sunan Kalijaga adalah salah satu orang yang membuat tiang pokok masjid Demak dari potongan-potongan kayu jati yang disusun rapi dan kuat.
i. Sunan Gunung Jati telah mendapat kemenangan dalam merebut kota Jakarta.
3. Kondisi Pendidikan pada Masa Penjajahan Belanda
Kesempatan yang luas bagi masyarakat umum untuk memasuki sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh Belanda. Maka, kaum Islam mendapat tantangan dan saingan berat, terutama karena sekolah sekolah Hindia Belanda dilaksanakan dan dikelola secara moderen terutama dalam hal kelembagaan, kurikulum, metedologi, sarana, dsn lain-lain.
Perkembangan sekolah yang demikian jauh dan merakyat menyebabkan tumbuhnya ide-ide dikalangan intelektual Islam untuk memberikan respon dan jawaban terhadap tantangan tersebut dengan tujuan untuk memajukan pendidikan Islam.
4. Sistem Pendidikan Islam pada Masa Kolonialisme Belanda
Pada umunya pendidikan di pesantren mengutamakan pelajaran fiqih. Namun, sekalipun mengutamakan pelajaran fiqih tetapi mata pelajaran lainnya tidak diabaikan sama sekali. Dalam hal ini pelajaran yang berhubungan dengan ilmu alat, pembinaan iman, dan akhlak sangat diperlukan.
`5. Pengaruh Kebijakan Kolonial Belanda terhadap Pendidikan Islam
Atas reaksi yang sedemikian besar, akhirnya pemerintahan Belanda melalui Gubernur jendralnya memberi jawaban bahwa ordonasi guru di Minangkabau belum ada niat kapan untuk dilaksanakan. Lambat laun eksistensi ordonasi guru tidak lagi ada urgensinya, dan akhirnya kebijakan ini dibatalkan dan hilang dari peredaran. Walaupun sebelum keputusan ini di buat sesungguhnya Belanda telah berusaha membujuk rayu beberapa tokoh Islam Minangkabau untuk mendukung pelaksanakan ordonasi ini, namun mereka tidak berhasil.
6. Kondisi Pendidikan pada Masa Penjajah Jepang Kondisi pendidikan pada masa pemerintahan Jepang lebih buruk dari Belanda . sebagai gambarannya dapat dilihat dari segi kuantatif trendnya mengalami kemunduran. Pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi. Meskipun bahasa Indonesia resmi menjadi bahasa pengantar pada tiap-tiap jenis sekolah, akan tetapi sekolah-sekolah itu dipergunakan juga sebagai alat untuk memperkenalkan budaya Jepang pada rakyat.
7. Kebijakan Jepang terhadap Agama Islam
a. Kantor urusan agama diubah sumubiy yang dipimpin oleh K.H. Hasyim Asy’ari.
b. para ulama Islam bekerja sama dengan pimpinan-pimpinan orientasi diizinkan membentuk barisan pembela tanah air.
c. para ulama Islam diizinkan meneruskan organisasi persatuan (MIAI).
d. sekolah negeri diberi pelajaran budi pekerti yang isinya identik dengan ajaran agama.
e. pemerintah Jepang mengizinkan pembentukan barisan hizbullah
f. pemerintah Jepang mengizinkan berdirinya sekolah tinggi Islam.
8. Perkembangan Pendidikan Islam masa Penjajah Jepang
Pertama, madrasah. Awal pendudukan Jepang, madrasah berkembang dengan cepat terutama dari segi kuantitas. Kedua. Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Sekolah negeri diisi dengan pelajaran budi pekerti.
Madrasah-madrasah yang ada di dalam lingkungan pondok pesantren yang bebas dari pengawasan langsung pemerintahan penduduk Jepang.
PERANAN KERAJAAN ISLAM dalam PERKEMBANGAN PENDIDIKAN di INDONESIA
Pendidikan Islam pada masa kerajaan Islam di Nusantara, pendidikan Islam mulai menunjukan ke arah kemajuan yang cukup pesat karena hampir disetiap daerah yang penduduknya Islam berdiri mesjid, surau disamping berfungsi sebagai tempat ibadah juga sebagai pusat kegiatan Islam termasuk pendidikan.
Upaya mempertahankan kemerdekaan di zaman penjajah, tidak lepas dari peran besar para kiyai yang telah banyak meletakkan dasar-dasar ilmu pengetahuan agama dan jiwa patriotisme terhadap para murid.
Prekembangan pendidikan Islam tidak lepas dari munculnya kerajaan Islam: Demak (1500), kerajaan Gowa Tallo pada abadke 17, Samudera Pasai ( 1297), kerajaan Aceh (1514).
Penjajah Belanda dan Jepang di Indonesia telah memberi konstribusi besar dalam penguasaan IPTEK dan akses jalan di seluruh pelosok negeri antara kota dan desa di Indonesi.
PENDIDIKAN ISLAM di INDONESIA dalam LINTAS SEJARAH
Pendidikan Islam pada masa sebelum penjajahan ditandai dengan Islamisasi yang sangat pesat. Hal ini berhasil membentuk masyarakat Islam yang mendorong lahirnya kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia pada masa sebelum penjajahan (Demak, kerajaan Gowa Talo, Samudera Pasai, dan kerajaan Aceh.
Pendidikan Islam pada masa penjajahan di bagi menjadi dua: masa Belanda, pendidikan pada masa Belanda ini sangat memprihatinkan, namun gerakan-gerakan pembaruan Islam tetap muncul. Pendidikan pada masa Jepang, pada masa Jepang Islam lebih leluasa mengembangakan pendidikan karena dihapusnya peraturan Belanda yang diskriminatif.
Di awal orde lama, pendidikan Islam sudah tidak termarginalkan lagi. Pendidikan pada masa orde baru, telah masuk kepada sistem pendidikan nasional. Pada masa reformasi, berbagai kebijakan pemerintahan yang tidak hanya berlaku bagi lembaga pendidikan di bawah naungan kementrian agama menunjukkan sudah tidak tampaknya dikotomi pendidikan dan deskriminasi peerintah terhadap pendidikan agama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar